IURAN.id membawa Ambulans Motor dari Bandung ke Amerika

Oleh Admin Iuran pada 02.08.2018

Beberapa waktu sebelumnya, kontes ide “Andai Aku menjadi Walikota” berhasil terlaksanakan. Kontes ini memberikan kesempatan kepada warga Bandung untuk menjawab sebuah persoalan di Bandung, layaknya seorang walikota. Melalui IURAN.id (sebuah akronim dari “Inovasi Urang Bandung”), sebuah crowdsourcing platform besutan HYVE Indonesia, warga Bandung dapat menyumbangkan solusi-solusi inovatif. Bagi warga Bandung yang terpilih karena solusinya dianggap paling inovatif, mereka akan diberikan hadiah uang dan berkesempatan bertemu dengan Ridwan Kamil selama satu hari.


Setelah ide-ide yang terkumpul diseleksi ketat oleh juri-juri lintas industri, Ambulance Motor merupakan ide paling inovatif sehingga dapat memenangkan kontes “Andai Aku Menjadi Walikota”. Gagasan ini diprakarsai oleh Dani Ferdian, seorang dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unpad. Ambulance Motor merupakan layanan yang diintegrasikan dengan Layad Rawat 119, sebuah one-stop solution untuk penanganan kesehatan yang bersifat gawat darurat. Ambulance Motor memungkinkan dokter dan perawat untuk menjangkau pasien-pasien yang berada di lokasi sulit digapai oleh ambulans mobil dan membutuhkan penanganan segera.

Launching Ambulance Motor

 

Dunia pun Menyadari Keberhasilan Ambulance Motor


Crowd Academy dari Harvard Business School melalui HYVE AG, mengundang HYVE Indonesia yang diwakili oleh CEO HYVE Indonesia, Irma Malibari dan Komisaris HYVE Indonesia, Ilham A. Habibie untuk mempresentasikan Ambulance Motor dan implikasinya di depan akademisi dan profesional. Irma Malibari, berpendapat ini adalah kesempatan berharga untuk membawa prestasi Indonesia ke dunia internasional. “Respon audience di sana terhadap Ambulance Motor sangat impressed. Mereka kagum dengan jumlah submission dalam kontes ide ini. Belum pernah ada submission (sebanyak) 1.700 ide, yang berasal dari publik kelas menengah dan dapat berpotensi menolong nyawa.” Ia pun menceritakan kesannya ketika memberikan presentasi,”rasanya deg-degan karena audience-nya orang-orang besar, seperti ilmuwan dari NASA, direksi dari Deloitte Consulting, direksi dari General Electric, profesor dari New York University, University of Salzburg, dan lain-lain. Pertanyaan yang dilemparkan oleh mereka pun memiliki kualitas yang berbeda. Suatu kebanggan bagi HYVE Indonesia, sebagai partisipan satu-satunya dari Asia dan tergabung dalam komunitas Crowd Academy.”

CEO HYVE Indonesia, Irma Malibari

Irma dan Ilham menjelaskan tentang tantangan-tantangan yang dihadapi oleh HYVE Indonesia dalam menjalankan kontes ide dan mempraktikkan crowdsourcing. Terdapat 3 masalah mendasar, yaitu:

Dorongan unik untuk berpartisipasi

Bandung merupakan kota yang berbeda dengan kota lainnya. Apa yang sudah dapat sukses diaplikasikan untuk dapat mengajak orang untuk berpartisipasi di kota Bandung, belum tentu berhasil di kota (atau di kontes ide) lainnya. Untuk kontes Ide yang sukses, perlu didesain sebuah insentif atau motivasi yang tepat untuk mendorong partisipasi menyumbang ide. Dalam hal ini, Ridwan Kamil sebagai figur publik yang dihormati berhasil menjaring ribuan sumbangan ide.

 

Metode filter ide yang kurang efektif

Terdapat lebih dari 1.700 ide yang masuk. Dalam kontes ide yang normal, angka ini termasuk fantastis. Karena umumnya jumlah rerata sumbangan ide yang masuk hanya mencapai ratusan. Jumlah ide masuk yang besar ini menjadi tantangan tersendiri untuk disaring dan dipisahkan dari ide mentah dengan ide yang layak menjadi solusi inovatif.

 

Jaminan Kepemilikan terhadap Ide

Meskipun kepemilikan ide sudah diatur di situs IURAN.id, namun kita perlu menghasilkan sebuah formula yang memastikan bahwa kepemilikan sebuah ide sudah seadil-adilnya dan sudah dipahami oleh setiap pemangku kepentingan agar menghindari hal-hal yang tidak semua orang inginkan.

 

Komisaris HYVE Indonesia, Ilham Habibie

Kesuksesan Ambulance Motor menjadi bukti bahwa Open Innovation dapat menghasilkan ide brilian untuk menjadi solusi tepat guna yang menjawab permasalahan yang ada. Layanan ini berhasil memotong 30 - 45 menit yang dibutuhkan untuk menolong orang apabila menggunakan mobil ambulans dan meningkatkan kesempatan dokter dan perawatnya untuk menyelamatkan nyawa. Selama ini, rata-rata Ambulance Motor sudah melayani 50 pasien per bulan. Adapun minimum standar layanan yang dipegang adalah Ambulance Motor wajib sampai ke lokasi pasien tidak kurang dari 20 menit dengan rata-rata tingkat keberhasilan sebanyak 95%!

Irma mengatakan bahwa nilai dasar Indonesia adalah gotong royong. Hal ini merupakan alasan fundamental bahwa crowdsourcing dapat dengan mudah diimplementasikan di Indonesia. Didukung oleh teknologi dan user experience terkini, crowdsourcing dapat menghubungkan orang, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya yang memiliki kepedulian yang terhadap masalah yang sama. Kita tidak lagi bergantung dengan pemikiran segelintir orang untuk memecahkan masalah. Tapi kita dapat menggunakan the power of crowd untuk dapat mencapai suatu tujuan kolektif. The world is our lab. Kedepan IURAN.id akan terus mengembangkan platform-nya sehingga dapat dipergunakan oleh seluruh lapisan warga Indonesia.

 Presentasi Ambulance Motor di Harvard Business School